Pages

Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 September 2014

Secangkir Kopi Perlu 140 Liter Air


Berapa jumlah air yang dibutuhkan untuk menyajikan secangkir kopi? Beberapa dari Anda mungkin akan dengan mudah menjawab, "Pastinya satu cangkir." Tapi, berdasarkan Water Footprint, rata-rata jumlah air yang dibutuhkan untuk menyajikan secangkir kopi adalah 140 liter.

Bagaimana bisa? Water Footprint tak hanya menghitung air yang digunakan untuk menyeduh kopi, tetapi juga total air yang dibutuhkan untuk menanam dan memelihara kopi, memanen, dan memrosesnya hingga menjadi biji kopi yang siap digiling, didistribusikan, hingga akhirnya disajikan di meja.

Jumlah tersebut cukup mengagetkan. Namun hal itu bisa menjadi cerminan bahwa pemakaian air dalam bidang pertanian, industri, dan konsumsi masyarakat tak terkirakan. Contoh lain, menyajikan secangkir teh memerlukan 35 liter air danmenyajikan 1 kg nasi memerlukan 3.000 liter air.

Untuk melihat dan mengontrol konsumsi air, pada tanggal 28 Februari 2011 lalu Global Water Footprint Standard merilis catatan terbaru. Catatan yang merupakan standar tersebut dikembangkan oleh Water Footprint Network dengan 139 partner, ilmuwan dari Universitas Twente, Belanda, serta kalangan LSM, perusahaan, dan pembuat kebijakan.

Global Water Footprint Standard memberikan konsistensi dalam mengukur jumlah air yang digunakan dan dampaknya. Pimpinan Water Footprint Network, Jim Leape, mengatakan bahwa standar tersebut dibuat saat perusahaan di semua sektor menyadari adanya ancaman kekurangan air yang bisa berdampak pada bisnisnya.

Menurut National Coordinator Freshwater Program WWF Indonesia Tri Agung Rooswiadji, standar tersebut dirancang untuk mengurangi pemborosan dalam konsumsi air. "Jumlah air bersih sudah sangat terbatas. Kalau kita boros, itu akan mengurangi kebutuhan pihak lain juga," ungkapnya.

Menurutnya, pemborosan konsumsi air kini banyak terjadi di kalangan industri komersial. "Industri ini tidak hanya industri manufaktur, tetapi juga yang lain, seperti pertanian dan tekstil. Kalau misalnya membuang limbah cair langsung, itu juga mengurangi jumlah air bersih," katanya.

Setiap komoditas industri menurutnya memiliki kebutuhan air yang berbeda. "Yang terbesar itu misalnya pada kopi, minyak sawit, dan kakao," kata Tri. Sektor lain, misalnya pada bahan makanan pokok, membutuhkan 3.000 liter air untuk memproduksi 1 kg beras dan 900 liter air untuk 1 kg tepung jagung.

Efisiensi dalam pemakaian air ini penting untuk dilakukan, terutama oleh kalangan industri. Ketidakefisienan dalam pemakaian air yang mengakibatkan kekurangan air bisa memicu konflik. "Itu pernah terjadi tahun 2001-2002 di Lombok. Petani berkonflik karena kekurangan air," ujarnya.

Tri mengungkapkan, kalangan industri bisa mulai menerapkan Water Footprint Standard. Dalam standar ini terdapat fasilitas penghitungan jumlah air yang digunakan berupa Water Footprint Calculator sehingga bisa membantu program efisiensi air.

Di sisi lain, ia juga menekankan perlunya kebijakan pemerintah. "Selama ini belum ada kebijakan mengenai efisiensi air," katanya. Kebijakan ini diharapkan bisa memacu pelaku industri untuk menerapkan standar tersebut.

Rabu, 09 Oktober 2013

Mazda Produksi kembali Mesin Rotari pada 2015



Para penggemar mesin rotary atau Wankel bisa kembali bergembira. Pasalnya, satu-satunya produsen yang memproduksi mesin tersebut, Mazda, yang menghadirkan kembali mesin tersebut dua ahun mendatang yang akan dipakai untuk model terbaru.


Sumber tenaga yang hanya ditemui pada model RX ini, menggunakan kode 16X. Selain menghasilkan tenaga dan torsi besar, konsumsi bahan bakar mesin nanti makin irit. Hasil selanjutnya, emisinya juga lebih bersih.Selama ini, kedua faktor tersebut yang menyebabkan mesin rotari harus dihentikan produksinya.

Rabu, 31 Juli 2013

Polwan dan Kowad Berjilbab

Kabarnya polwan atau kowad tidak boleh berjilbab, kenapa? alasanya agar pelayanan pada masyarakat tidak memihak atau imparsial. Padahal di Inggris pemerintahannya mengijikan polwannya berjilba bagi polwan yang muslim. Nah dinegara kita bagaimana? kata Wakapolri komjen Nanan Sukarna "kalau keberatan kita serahkan kepada yang bersangkutan, pensiun atau memilih tidak menjadi polwan". Melanggar ham ngak sih? mana komnas ham yang koar2 kemana2 dengan kasus cebongan?

Terlepas dari itu, ucapan Wakapolri mungkin tidak berlaku Aceh. Berani pak menindak tegas ? ;-)

@Heri Juanda/ATJEHPOSTcom