Pages

Rabu, 09 Januari 2013

Begini Cara Mengemudi Mobil Agar Irit BBM

Gaya serta kecakapan berkendara ternyata sangat berpengaruh pada tingkat efisiensi bahan bakar kendaraan. Mobil yang sama tapi dikendarai dua orang berbeda, bisa jadi menghabiskan bahan bakar berbeda. Satu boros, satu irit.

Berikut tips jitu mengemudi yang baik agar bisa mengurangi konsumsi bahan bakar dari Anggota Off Rider Indonesia, Wosy Nugroho.

Pertama, hindari akselerasi dan pengereman berlebihan. Sebab, ketika mengerem akan dibutuhkan tenaga mesin lagi untuk mengembalikan kecepatan semula. Ada baiknya Anda melaju secara konstan.

Kedua, menjaga putaran mesin. Rata-rata mesin bensin bekerja optimal di putaran 2.500-3.500 rpm – tempat torsi maksimal berada. Aturlah perpindahan gigi supaya putaran mesin berada di angka itu.

Terlalu tinggi akan menyebabkan bbm terbuang cepat, sedang terlalu rendah menyebabkan mesin kehilangan torsi dan butuh injakan gas dalam ketika hendak menambah kecepatan. Paling hemat jika Anda melaju konstan di rpm tersebut dengan gigi tertinggi.

Ketiga, periksa tekanan ban. Jika tekanan ban berkurang tentunya dapat mengakibatkan hambatan serta beban mobil bertambah. Tenaga yang dibutuhkan juga semakin besar, otomatis ini akan menguras bahan bakar.

Keempat, menjaga injakan pedal gas. Sebaiknya jika ingin kecepatan, injaklah gas dengan lembut dan progresif. Menginjak terlalu dalam akan membuat bahan bakar keluar dengan cepat.

Kelima, hindari kemacetan. Sebab, mobil yang sering berhenti, konsumsi bbm saat itu adalah 0 km/l. Semakin banyak Anda menghindari titik kemacetan, tentunya konsumsi bbm yang didapat akan semakin minim.

Terakhir, matikan AC jika tidak perlu. Karena kompresor AC memberi beban cukup besar ke mesin.
Performa ketika AC terpasang dengan tanpa AC (14/XIX). Saat itu yang digunakan Toyota Avanza tipe G M/T 2009.

Bayangkan saja, Avanza sanggup menghasilkan tenaga 71 dk tanpa AC, namun setelah AC dinyalakan power langsung drop hingga 60,8 dk, alias turun 10,2 dk!

Karena tenaga turun, kerja mesin untuk menyalur tenaga semakin besar dan otomatis berefek terhadap injakan pedal gas jadi lebih dalam. Artinya, kebutuhan BBM pun lebih banyak.

Nah, untuk menyiasati konsumsi, bisa juga dengan mengatur temperatur AC. Temperatur lo, bukan besaran kipas atau semburan angin.

Tinggal lihat saja cuaca di luar. Misalkan sudah malam, kan enggak perlu setel temperatur maksimal. Begitu sebaliknya. Bukan apa-apa, kompresor AC termasuk beban terberat untuk mesin.

reff :
danzi-oto.blogspot

Cara Jitu Mencegah Rem Tidak Blong

Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan untuk merawat rem.

Rem menjadi bagian paling vital dari sebuah kendaraan
Rem menjadi bagian paling vital dari sebuah kendaraan, baik roda empat maupun roda dua. Jika tidak dirawat dengan baik, bukan mustahil rem akan blong dan membuat pengendara serta penumpang celaka.
Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan untuk merawat rem. Salah satunya adalah memeriksa bagian kampas rem yang sering kali sudah habis masa pakainya.

Biasanya rem tidak akan berfungsi dengan baik, apabila kampas rem sudah habis. Tidak hanya itu, ada juga penyebab lainnya yakni minyak rem yang kosong atau habis.

Berikut tips ampuh mencegah terjadinya rem blong dari Arif Tri W, Reserch & Development and Product Director, PT Remindo Prima Mitra, yang merupakan produk aftermarket untuk rem.

1. Periksa minyak rem jika lampu rem menyala.

2. Memahami bahwa suara bernada tinggi (Scraping) yang hilang ketika Anda menginjak rem memberitahu bahwa brake pad sudah mulai aus. Namun ini hanya berlaku dengan brake pad yang memiliki wear indicator atau batas keausan pada rem.

3. Perhatikan bahwa adanya suara gesekan antara logam dengan logam saat pengereman menunjukkan terjadi keterlambatan penggantian rem. Seperti brake pad atau brake shoe yang benar-benar sudah aus. Di sini harus melakukan pemeriksaan kampas rem sebelum kasus ini terjadi.

4. Rasakan pedal rem. Jika pengereman terasa lembut atau lembek atau dirasakan lebih keras dan lebih tinggi ketika dipompa, Anda mungkin perlu mengisi cairan (membleeding) rem anda dengan membuang gelembung udara yang ada dalam line brake.

5. Perhatikan bahwa jika pedal rem perlahan-lahan tenggelam ke lantai ketika Anda menginjaknya. Ada baiknya untuk segera mengganti dengan master silinder baru.

6. Jalankan mobil pada kecepatan rendah dan lakukan pengereman. Jika timbul bunyi dari rem, Anda mungkin perlu brake pad baru, atau permukaan rotor perlu diratakan kembali.

7. Memahami jika mobil menarik ke satu sisi saat melakukan pengereman, Anda mungkin memiliki tekanan hidrolik yang tidak sesuai di salah satu bagian dari sistem rem, atau salah satu rem mungkin menempel. Front-end juga dapat menyebabkan masalah gejala ini.

8. Pertimbangkan rotor Anda jika terasa denyut saat menginjak pedal rem, terutama saat pengereman pada kecepatan tinggi. Gejala ini mungkin menunjukkan rotor rem sudah rusak atau tergores. Rotor akan perlu untuk di resurface atau diganti.

9. Ingatlah bahwa rem yang berasap, biasanya disertai dengan bau yang sangat menyengat, mengindikasikan kaliper rem atau silinder roda macet. Gejala ini juga bisa disebabkan oleh berkendara dengan rem tangan atau dengan kabel rem tangan macet.

reff : 
danzi-oto.blogspot

Rabu, 02 Januari 2013

10 Salah Kaprah Pengemudi di Indonesia



Tidak sedikit pemilik mobil saat berkendara kurang memahami fungsi dari fitur. Bisa dibilang suatu kesalahan, tapi karena mengikuti kebiasaan lingkungan. Lebih parah lagi, kala berada di jalan, peraturan lalu lintas tak diindahkan, sehingga membahayakan pihak lain. Dengan kata lain, ada kesalakaprahan dilakukan pengemudi, baik terhadap kendaraannya maupun dengan lingkungan sekitarnya. Inilah kaprah dilakukan pengemudi di Indonesia

1.Hujan Deras = Lampu Hazard
Dalam kondisi hujan deras, jalanan – terutama di jalan tol – seketika akan berubah menjadi pohon natal. Karena, sebagian besar mobil menyalakan lampu hazard yang justru menyilaukan dan membahayakan kendaraan lain. Ketika pengemudi tuntut untuk lebih berkonsentrasi, malah diganggu oleh kedap-kedip lampu hazard yang semestinya digunakan dalam kondisi darurat. Semisal, sedang mengganti ban kempis di bahu jalan, atau mobil mogok di bahu jalan, dsb.

Salah kaprah penggunaan lampu hazard bukan hanya saat hujan deras saja, tapi juga kala konvoi atau sedang iring-iringan, masuk terowongan (seharusnya menyalakan lampu utama), dan ketika akan mengambil jalan lurus di perempatan/persimpangan jalan.

2.Penggunaan Wiper Belakangan
Saat ini, sebagian besar mobil MPV dan SUV (ada sampai tipe termurah) sudah dilengkapi wiper di kaca belakang. Rupanya, banyak pengemudi yang tidak memahami pemakaiannya. Ketika turun hujan, beberapa pengemudi segera mengoperasikannya sepanjang perjalanan. Padahal, fungsi wiper belakang digunakan saat mobil hendak mundur, sehingga pengemudi bisa melihat kondisi di belakang dengan jelas.

Untuk mobil Eropa dan sebagian Jepang di kelas menengah ke atas, wiper belakang akan menyala otomatis ketika tuas transmisi masuk ke gigi “R”. Ketika mengemudi, pandangan pengemudi semestinya lebih fokus ke arah depan, dan sesekali melihat kaca spion ketika hendak mendahului.

3.Goncangkan Mobil Saat Isi Bensin
Pada mengisi BBM di SPBU, sering terlihat pengemudi mobil mengoncang-goncangkan bodi. Anggapannya, dengan melakukan tindakan tersebut dapat mengisikan BBM ke tangki dengan kapasitas lebih banyak/penuh. Yang kita tahu, BBM adalah cairan, dan sifat cairan adalah selalu mengisi dan mencari tempat yang lebih rendah. Jadi tidak perlu digundang-guncangkan agar lebih penuh.

4.Tambah Kecepatan Saat Lampu Kuning
Ketika lampu lalulintas menyala kuning, sebelum menjadi merah, banyak pengemudi kendaraan bermotor malah mempercepat laju kendaraannya. Padahal, lampu kuning tersebut sebagai peringatan agar pengemudi melambatkan kendaraan. Dengan mempercepat laju kendaraan, akan sangat membahayakan pengguna jalan lain. Ketika lampu lalu lintas menyala merah, maka pengemudi dari arah kiri dan kanan mulai menjalankan kendaraannya. Bisa terjadi tabrakan fatal. Jika tiba-tiba pengemudi rem mendadak, bisa ditabrak oleh kendaraan dari belakang.

5.Mendahului Dari Bahu Jalan
Semua pengemudi pasti tahu bahwa fungsi bahu jalan digunakan saat kendaraan mogok, ganti ban, atau untuk akses mobil patroli jalan tol memberikan pertolongan dalam kondisi darurat. Padahal,pihak pengelola jalan tol sudah berkali-kali mengingatkan melalui spanduk dan papan elektronik. Bahkan salah satu klub otomotif telah mencanangkan gerakan “anti bahu jalan”, tetap saja pelanggaran sering terjadi. Malah sekarang salah kaprah itu bertambah, bahu jalan adalah lajur khusus pejabat.

6.Jalan Pelan Di sebelah Kanan
Jika melihat truk melintas di lajur kanan di sepanjang jalur pantura, itu sudah biasa. Ternyata, kebiasaan itu menular ke mobil-mobil pribadi di jalan tol. Ketika penulis hendak mendahului dan memberi tanda dengan klakson atau lampu dim, mobil tersebut malah menyalakan sign kanan. Jadi, mobil yang lebih cepat disuruh mendahului dari kiri. Waduuuh..., padahal sudah dipasang banyak himbauan di jalan tol: “lajur kanan hanya untuk mendahului....”.

7.Menekan Pedal Gas Sebelum Mematikan Mesin
Banyak ditemui pengemudi menekan pedal gas mobil dalam-dalam sebelum mematikan mesin (memutar kunci kontak ke “off”). Mereka beranggapan dengan demikian maka accu mobil akan terisi, ruang pembakaran lebih bersih, sehingga mobil akan lebih mudah di-start.

Padahal, dengan menekan pedal gas, maka pompa bahan bakar dan pelumas akan menghisap BBm dan oli. Jika kemudian tiba-tiba mesin dimatikan, maka sisa BBM yang tidak terbakar akan menumpuk di saluran pembakaran. Justru lebih baik mesin dibiarkan idle sekitar 10 menit sebelum dimatikan, sehingga kondisi ruang pembakaran dan pendinginan mesin lebih optimal.

8.Tidak Menyalakan Lampu Sign Saat Mendahului
Banyak pengemudi tidak menyalakan sign saat berpindah jalur atau memotong jalur untuk mendahului kendaraan lain. Mereka beranggapan bahwa jika menyalakan lampu sign, justru tidak akan diberi kesempatan oleh kendaraan di belakangnya. Fenomena ini memang aneh, justru yang memberitahu dan meminta ijin untuk memotong jalur dengan menyalakan lampu sign kok malah sering tidak dikasih jalan...

9.Lampu Sign Hanya Untuk Belok Kanan
Masih soal lampu sign, pengemudi di Indonesia terkenal irit menggunakannya. Lampu sign (atau lampu belok) hanya digunakan / dinyalakan saat kendaraan hendak belok kanan saja. Itupun dengan syarat, benar-benar belok dengan sudut minimal 90 derajat. Jika belok kanan hanya serong sedikit (seperti huruf “Y”), tidak perlu lampu sign dinyalakan.

Sehingga sangat jamak ditemukan, mobil keluar atau masuk di pintu tol tidak perlu lampu sign. Keluar atau masuk ke rest area, tidak perlu nyalakan sign. Belok kiri di perempatan, tidak perlu lampu sign. Mobil mundur hendak masuk area parkir, tidak perlu sign dst, dst.

10.Jalanan = Tempat Sampah
Pengemudi kita menganggap jalan raya adalah tempat sampah. Mulai dari supir kendaraan umum, sampai pengemudi mobil mewah sering membuang sampah sembarangan. Yang paling sering adalah abu serta puntung rokok yang masih menyala dibuang sembarangan. Juga tissu, kulit buah, botol minuman berenergi, dsb. Sampah terbesar yang pernah saya lihat

dibuang sembarangan di jalan tol adalah popok bayi (pampers). Bukan sembarang popok, karena dibuang lengkap dengan isinya... Bisa dibayangkan betapa kagetnya kendaraan di belakangnya dan indahnya pemandangan setelahnya....

reff :
http://otomotif.kompas.com

Memilih Radiator Coolant

Membandingkan Air Pengisi Radiator (Coolant)
Pilih Air Pengisi Radiator Yang Efektif Dan Ekonomis. Agar performa mesin kendaraan selalu dalam kondisi baik dan prima, bisa dilakukan suatu perlakuan khusus terhadap mesin kendaraan. Salah satunya adalah penambahan campuran air radiator. Dengan komposisi tertentu, air pengisi radiator bisa ditambah atau diisi dengan coolant yang banyak terdapat di pasaran.

Mesin kendaraan saat bekerja menimbulkan efek panas yang tinggi dan sangat berpengaruh terhadap komponen-komponen lainnya. Normalnya suhu mesin saat bekerja adalah antara 75-90ºC. Jika suhu terlalu tinggi, maka mesin akan mengalami overheating dan tidak bisa bekerja normal. Untuk itu perlu suatu sistem penjaga suhu mesin agar tak sampai melebihi suhu tersebut.

Pada mesin kendaraan sebenarnya sudah digunakan siklus air pada sistem radiator untuk menjaga suhu, agar suhu tetap konstan dan ideal. Kemudian siklus air ini akan melewati rongga-rongga pendingin pada radiator untuk melepaskan panas, sebelum kembali menyerap kelebihan suhu pada mesin. Demikian seterusnya sistem pendinginan ini bekerja. Masalahnya sekarang harus dipilih air pengisi radiator dengan kemampuan atau karakter yang sesuai dengan fungsi utamanya sebagai pendingin (cooler).

Saat ini sudah jarang orang sekadar mengisi dan mengganti air radiator dengan air ledeng biasa. Pada umumnya mereka sudah memakai air radiator tambahan atau coolant. Pemakaian air radiator saat ini diharapkan tak hanya sebagai penjaga kestabilan suhu mesin saja, akan tetapi juga mampu menghindari korosi/karat terhadap dinding mesin dan cylinder head mesin, serta rongga-rongga pada radiator itu sendiri. Sehingga mesin menjadi awet pemakaiannya. Ditambah lagi usia pemakaian air radiator yang cukup lama atau jarak tempuh (kilometer) yang panjang.

Di pasaran umum banyak sekali beredar berbagai merek coolant sebagai air radiator tambahan. Ada yang berupa concentrate (biang), dimana pemakaiannya harus diencerkan atau dicampur air dengan komposisi tertentu. Ada pula yang tinggal langsung dituang ke radiator tanpa perlu diencerkan lagi atau di tambah air.

Dalam melakukan perbandingan ini kita menggunakan alat bantu: Thexton No.106. Untuk jenis coolant yang beredar di pasaran dipilih tiga macam air pengisi radiator, yaitu: Radiator Super Coolant (Prestone), Radiator Coolant (Top1), Antifreeze & Coolant (Peak), sebagai pembanding air ledeng dipakai air minum kemasan.

1. Air Ledeng (Aqua)

Air ledeng biasa setelah dilakukan tes Thexton, ternyata tak satu pun bola berwarna yang terdapat pada tabung Thexton naik atau mengambang. Berarti air ledeng akan mendidih sebelum suhu parameter terendah alat ini, yaitu 118ºC.

Terasa wajar saja sebab pada umumnya air saat dipanaskan pada suhu 85ºC sudah terdapat gelembung-gelembung udara kecil, pertanda mulai mendidih. Hal ini perlu dihindari, sebab dengan timbulnya gelembung atau buih ini membuat daya kerja larutan pengisi radiator jadi kurang maksimal. Mengingat suhu mesin masih terus meningkat lagi, sedangkan luas permukaan larutan yang bersinggungan dengan permukaan pendingin jadi berkurang karena terisi oleh buih.

Bisa disimpulkan, bahwa jika memakai air ledeng biasa sebagai air pengisi radiator daya pendinginnya tidak cukup baik karena titik didihnya relatif rendah. Belum lagi timbulnya buih yang nantinya memperbesar kemungkinan terjadinya karat dan korosi. Keuntungan pemakaian air biasa adalah dari segi ekonomi, karena tak perlu membeli.

2. Radiator Coolant (Top1)

Menurut petunjuk pemakaiannya, air pengisi radiator ini cukup praktis karena tak perlu mencampur dengan air atau mengencerkan lagi. Langsung tuang beres.
Jadi larutan pengisi radiator ini diuji tanpa menggunakan pengencer alias murni (100%). Hasilnya, adalah mengapungnya 1 buah bola berwarna. Dilihat dari tabel Thexton dapat disimpulkan, bahwa Radiator Coolant ini mampu menahan panas sebelum mendidih pada suhu 245ºF (118ºC).

Meski praktis pemakaiannya, tetapi jika dilihat volume kemasannya yang hanya 1 US galon (1 US galon=3,785 liter) tentu saja tak akan cukup memenuhi volume radiator. Misalkan saja untuk mengisi radiator Toyota Kijang memerlukan ± 7liter, berarti kita harus membeli 2 galon bahan ini. Dengan harga per galon Rp 23.900,- maka kita perlu mengeluarkan uang Rp47.800,-

3. Radiator Super Coolant (Prestone)

Sesuai petunjuk pemakaiannya, Radiator Super Coolant ini perlu dicampur air biasa dengan komposisi 50:50. Setelah dites Thexton, ternyata ada lima buah bola berwarna yang mengapung. Hal ini menyatakan, bahwa air pengisi radiator ini mampu menahan panas sebelum mendidih pada suhu 265ºF (130ºC). Karakter ini sudah cukup untuk menjaga suhu mesin.

Jika dilihat dari isi kemasannya yang cuma 1 liter dengan harga Rp26.700,- maka untuk memenuhi radiator Toyota Kijang paling tidak memerlukan 3 liter air pengisi radiator ini. Jadi dibutuhkan biaya sebesar 3x Rp26.700,- yaitu Rp80.100,-

4. Antifreeze & Coolant Protection (Peak)

Sebenarnya pada tabel kemasan produk ini ada beberapa komposisi pengenceran untuk pemakaian. Hal ini disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan dimana kita berada. Untuk daerah tropis dianjurkan menggunakan komposisi 50:50.
Maksudnya untuk menyetarakan dengan tes sebelumnya.

Setelah dilakukan tes Thexton ada empat buah bola berwarna yang mengambang. Menurut tabel, berarti larutan ini mampu menahan panas sebelum mendidih pada suhu 262ºF (128ºC). Kesimpulannya air pendingin sudah cukup memenuhi standar, walaupun titik didihnya masih sedikit di bawah RSC Prestone.

Harga 1 kemasan (1US galon) adalah Rp100.000,-. Seperti contoh sebelumnya untuk mengisi radiator Toyota Kijang, dengan komposisi 50:50 paling tidak diperlukan 3 US galon. Jadi biaya yang diperlukan 3x Rp300.000,-

Jika ditinjau dari titik didihnya, maka Radiator Super Coolant (Prestone) menempati urutan teratas, yaitu 265ºF (130ºC). Diikuti Anti Freeze & Coolant (Peak) yaitu 262ºF (128ºC), kemudian Radiator Coolant (Top1) 245ºF (118ºC). Terakhir tentu saja air biasa. Walaupun tak terdeteksi oleh alat ini, tetapi yang jelas air sudah mendidih pada suhu di bawah 100ºC.

Untuk masalah berapa besar biaya yang dikeluarkan jika kita mengisi air radiator, yang termurah alias tanpa mengeluarkan biaya adalah memakai air ledeng biasa. Tetapi harus diingat, bahwa air biasa tak cukup baik dipakai sebagai pengisi air radiator. Jika kita mengisi radiator Toyota Kijang dengan Radiator Coolant (Top1) memerlukan biaya Rp47.800,-. Bila memakai Radiator Super Coolant (Prestone) memerlukan Rp80.100,- dan terakhir Antifreeze & Coolant Protection (Peak) perlu biaya Rp300.000,-

Tentu saja produk-produk di atas mempunyai keunggulan dan kelebihan lain yang berbeda-beda. Seperti sifat anti korosif, proteksi terhadap semua bahan metal, dan sebagainya. Akan tetapi di sini hanya melakukan tes dan membahas tentang fungsi paling utama dari air radiator, yaitu sebagai pendingin.
Untuk sifat titik beku bisa diabaikan mengingat kondisi lingkungan kita yang tropis.

Karat

Jagalah radiator, agar selalu mendukung performa mesin tetap dalam kondisi puncak. Karat/korosi dapat menimbulkan masalah kebocoran radiator, thermostat mampat, pompa air rusak, sirkulasi air pendingin terganggu.
Apalagi mobil sekarang banyak menggunakan AC, kemudian lalu-lintas sering macet sehingga kerja mesin lebih berat, terjadi panas yang berlebihan pada mesin kendaraan (overheating), dan akhirnya bisa merusak mesin.

Cara Pengisian Air Radiator (Coolant)

- Pertama kuras radiator terlebih dahulu.
- Bila perlu tutup kembali radiator dan masukkan air yang ditambahkan flushing liquid tertentu dengan mesin stasioner kurang lebih 10-15 menit.
Hal ini dimaksudkan agar kotoran seperti karat yang menempel pada
dinding-dinding radiator luntur.
- Setelah itu buka dan bilas kembali dengan air bersih.
- Isilah radiator hingga penuh dengan coolant sesuai komposisi yang ada pada petunjuknya.

Thexton

Thexton adalah alat berupa tabung kaca dengan karet pipet sebagai pengisap larutan yang akan dites atau diuji. Di bagian dalam tabung terdapat enam buah bola-bola pipih berbeda warna. Bola-bola ini nantinya akan mengapung, jika tabung telah terisi larutan yang dites. Semakin banyak bola yang mengapung, maka semakin tinggi titik didih larutan yang diuji. Pada badan tabung kaca terdapat bagan atau tabel untuk melihat hasil tes yang dilakukan. Tujuan digunakannya alat ini adalah untuk mengetahui titik didih (boiling point) beserta titik beku (freezing point) suatu larutan yang dipakai mengisi radiator.

sumber : danzi-oto.blogspot

Hati-Hati Memilih Radiator Coolant



Disinyalir, pakai cairan radiator coolant bisa bikin mesin lebih adem. Akan tetapi, beberapa kejadian malah sebaliknya. Seperti beberapa pertanyaan masuk ke meja redaksi di kolom Konsultasi, mesin malah overheat setelah ganti radiator coolant. “Mesti hati-hati, karena karat dan kotoran di blok mesin bisa terangkat dan menyumbat radiator,” saran Anwar  punggawa bengkel radiator Ridho di Jakbar. Mau tai triknya? 

KURAS

Sebenarnya tidak haram kalau mau pakai radiator coolant. Menurut Anwar, mobil baru bisa tahan sampai lima tahun dengan cairan pendingin bawaan pabrik. Apakah mobil tua juga diperbolehkan pakai radiator coolant? “Yang penting kondisi saluran pendingin pada mobil tersebut harus bersih,” bilang pria 38 tahun ini.

Maksud Anwar, apapun jenisnya, cairan coolant punya kecenderungan mengangkat kotoran dan karat dari tempat penumpukannya. “Kalau mobil lama yang sebelumnya pakai air biasa, setelah pakai coolant biasanya saluran pendingin justru tersumbat. Ya karena kotorannya menyumbat pipa kapiler pada radiator atau water jacket (mantel pendingin),” bebernya. Pipa kapiler mampat, air tidak lancar mengalir, mesin pun bisa overheat.

Nah, kalau Anda saat ini masih pakai air biasa dan ingin ganti pakai coolant, pastikan sistem pendingin mobil dalam kondisi ideal. Indikatornya, adalah cairan pendingin. Paling gampang, longok isi radiator dan tabung reservoirnya. Kalau cairannya bening, masih aman buat dituang coolant.
Tetapi kalau sudah ada kecenderungan warna cokelat, sebaiknya dilakukan treatment dulu. Seperti servis radiator untuk menghilangkan penumpukan kerak di pipa kapiler dan cover atas bawahnya.
Kalaupun yakin radiator masih bagus (jajaran pipa tampak bersih saat diintip dari tutup radiator), sebaiknya sistem pendingin dikuras total. Sekadar mengingatkan, pengurasan dilakukan dengan mencopot slang radiator bagian atas.

Jika sedang servis radiator, menurut Anwar, slang bawah dikucurkan air langsung keran. “Terpenting, copot dulu thermostatnya. Hal ini mencegah adanya penumpukan kotoran di thermostat. Selain itu supaya saluran airnya tidak terhalang karena thermostat sifatnya menutup jika suhunya dingin,” ulasnya panjang lebar.

Trik ini dianggap ampuh membilas kotoran di dalam mesin. Pembilasan dianggap bersih jika air yang keluar dari slang atas benar-benar bening seperti air yang dimasukkan dari slang bawah. Itu pertanda jika kotoran benar-benar terbilas habis.

Setelah perlakuan ini, radiator baru bersih dan siap dituang coolant. Oh ya, mengenai jenis coolant yang kian beragam, Anwar mengajak untuk lebih bijak memilih. “Memang banyak, kalau bisa cari yang punya PH netral,” sarannya. Tetapi sulit buat mengecek, masak harus bawa-bawa PH meter. “Mungkin bisa dilihat dari harga. Yang bagus memang agak mahal karena proses penyulingan air yang dipakai harus bagus,” tutupnya seraya menyebut rata-rata banderol coolant berkualitas maksimal di atas Rp 40 ribuan..

reff :
http://danzi-oto.blogspot.com

Memilih Oli Mobil yang Pas



Belakangan banyak merek dan jenis oli mobil yang beredar di pasaran dengan spesifikasi yang kadang membingungkan. Oli mahal belum tentu baik untuk kendaraan. Alih-alih membuat performanya semakin ”greng”, justru ketika kita salah pilih, mesin menjadi tidak bekerja optimal bahkan mengurangi usia!

Inilah yang dipesankan Ivan Rastianto, Advertising & Promotion Manager Marketing Evalube Lubricants. Ada beberapa tips yang harus dipahami agar penggunaan oli cocok dengan karakter mesin mobil yang kita miliki. ”Habbit konsumen menanyakan ke mekanik. Iya kalau mekaniknya ngerti, kalau asal nunjuk merek yang mahal, belum tentu bagus juga,” sambarnya.

Agar lebih jelas, berikut penjabaran singkat tipsnya:

1. Yang harus dipahami pertama kali adalah spesifikasi mesin kendaraan. Di buku manual pasti disebutkan teknologi mesin dan jenis oli yang cocok. Merek apa pun, pada dasarnya sama asal spesifikasinya bisa diterima oleh mesin mobil.

2. Perhatikan tingkat kekentalan. Mobil-mobil masa kini, terutama yang sudah ada embel-embel VVT, VVTi dan sejenisnya. Minimum menggunakan oli dengan kekentalan 10/40 atau 5/30. Mesin-mesin seperti itu tidak cocok jika dipasangkan dengan oli berkekentalan 20/50 atau yang lebih kental.

3. Perhatikan juga kode lain seperti API. API SM khusus untuk mobil-mobil beteknologi baru dirancang untuk memberikan kontrol endapan temperatur tinggi yang lebih baik. Untuk generasi sebelumnya, misalkan mobil keluaran 2004 ke bawah, dianjurkan pakai kode SL. Lalu ada kode SJ untuk 2001 ke bawah.

4. Huruf ”W” yang terdapat di belakang angka awal, adalah singkatan dari ”Winter”. Misalnya SAE 15W-50, berarti oli tersebut memiliki tingkat kekentalan SAE 15 untuk kondisi suhu dingin dan SAE 50 pada kondisi suhu panas. Dengan kondisi seperti ini, oli akan memberikan perlindungan optimal saat mesin start pada kondisi ekstrim sekalipun.

5. Oli synthetic biasanya disarankan untuk mesin-mesin berteknologi terbaru (turbo,supercharger, DOHC, dan lainnya), membutuhkan pelumasan lebih baik, di mana celah antar logam lebih sempit atau presisi. Hanya oli synthetic yang bisa melapisi dan mengalir sempurna.

6. Boleh gonta-ganti merek oli, asal kode kekentalan sama. Sebaiknya tidak melakukan to up (menambah volume) karena terdapat sisa pembakaran di ruang bakar yang harus dibuang pada oli lama.

reff :
http://otomotif.kompas.com

Pasang USB Charger di Sepeda Motor

Frekuensi penggunaan gadget sangat tinggi kerap bikin bingung soal charging. Apalagi, dalam satu tas bisa terdapat lebih dari dua gadget. Dibantupower bank bahkan dirasa masih kurang. Solusinya, pasang USB charger di sepeda motor!

Kelengkapan yang diperlukan hanyalah sebuah USB port, saklar on/off kecil, kabel-kabel, sekering, dan socket kecil. ”Posisi bisa di mana saja. Banyak yang minta dipasang di dekat kunci kontak. Tapi kalau ingin tersembunyi, pasang di dalam boks,” ujar Pak Wiet, pemilik Amigo Motor, bengkel spesialis kelistrikan di Jl Palmerah Barat, Jakarta.

Biayanya cukup murah, Rp 150 ribu ditunggu langsung jadi, atau beli bahannya saja Rp 100 ribu dan pasang sendiri buat yang tangannya gatal ”ngoprek” sepeda motor. Begini langkah-langkah pemasangannya:

1. Lubangi tempat yang akan dibuat rumahan USB. Sebelum melubangi, cek dulu, apakah di belakangnya ada posisi lowong supaya tidak mentok di belakang.

2. Pisahkan kabel. Kabel (-) langsung disambung ke (-) aki. Kabel (+) disambungkan ke saklar, melalui sekering 10 ampere. ”Sebetulnya sekering 1 ampere sudah cukup, karena cuma terpakai 0,4 ampere. Tapi mencari sekering 1 ampere susah,” terang Pak Wiet.

3. Setelah terpasang, rumahan USB diberi sealant (perekat) untuk mencegahnya kemasukan air. Lubangi posisi bawahnya, sebagai antisipasi jika kemasukan air. Tapi menurut Pak Wiet, air menyelinap pun tak akan berpengaruh atau konslet karena letak komponen ada di bagian atas.

4. Saklar harus dipasang, untuk mengatur aliran listrik ke USB charger.

Aliran listrik dari aki pasti naik turun, apalagi dalam kondisi jalan. Jangan khawatir, karena rumahan USB otomatis membuat tegangan menjadi flat, keluar 5,1 volt. ”Kalau sudah dipasangkan enak, ditinggal nonton charge aja di sepeda motor. Atau pas lagi jalan ke kantor, iPadnya di-charge juga oke kan,” celetuk Pak Wiet.

reff :
http://otomotif.kompas.com